15 Agustus, 2017

~PENYAKIT MUSLIMAH KEKINIAN~

Dulu waktu kuliah saya punya dua orang teman yang jilbanya minimalis banget, mereka berdua cuma punya tiga lembar jilbab. Karena hanya itu-itu saja yang mereka pakai, jadilah sampai sekarang saya masih ingat banget warna jilbab mereka. Dulu pikiran saya si doi berdua ini zuhud pisan, hehe, di saat bersamaan teman-teman kami sedang sibuk memadu padakan pakaian yang matching dari atas sampai bawah, mereka hanya punya tiga jilbab itu saja.
Saya masuk dalam golongan mereka yang sibuk ini. Kamar kostan saya udah kayak gudang, banyak banget barang, yang sebenarnya saya nggak butuhkan.
Fase dimana saya pengen jajan terus, semakin nggak tertahan apalagi pas udah kerja dan punya penghasilan sendiri. Apa-apa mau di beli, kalau saya ingat-ingat lagi fase itu, hidup saya berasa mubazir banget. Gila aja jilbab bisa lebih sekodi bahkan ada yang warnanya dobel-dobel, sepatu lebih setengah lusin padahal kaki cuma dua, tas bergelantungan, belum lagi hasil lapar mata ngelihat tutorial mek ap, ikutan beli juga padahal nggak dipake, dan banyak lagi barang-barang yang membuat saya merasa bersalah, Ya Allah coba dulu saya beliin emas kan bisa dijual lagi.
Ujian pengen jajan terus semakin berasa saat ada yang namanya belanja online, subhanallah, ini ujian banget menurut saya, belum lagi ada ig, ditambah lagi ada iming-iming free ongkir, jadilah sambil tiduran juga bisa belanja. Ini ujian banget nggak sih? haha
Titik balik hidup saya pas ketemu buku Marie Kondo yang judulnya the Life Changing magic of tidying up. Setelah baca buku ini saya berasa habis di rukiah, apalagi pas ngikutin petunjuk buku ini untuk memilah barang yang benar-benar saya butuhin, sisanya boleh dibuang atau dikasih ke orang yang lebih membutuhkan. Momen saat memilih inilah bagian paling berat menurut saya, setiap kali memisahkan barang yang rasanya nggak saya butuhi banget, disitu ingatan saya langsung terbang ke hari pas saya beli barang itu. Yes, saya dihantui perasaan bersalah.
Ngomongin muslimah kekinian, istilahnya aneh nggak sih? istilah ini kepikiran setelah sebulan terakhir ini saya sering banget lihat akhwat cadaran dan jilbab gede yang eksis di IG. Padahal yang cadaran mukanya nggak keliahatan, tapi aura cantiknya jadi ujian buat buat babang-babang jomblo. Hihi. Tenang.... bukan cuma babang jomblo yang diuji kok, kami para emak pun teruji karena pakaian yang mereka pakai mengguncang dompet kami. Hahaha. Jadi muslimah cantik yang biasa nampang di IG kebanyakan di endorse baju gamis berbagai model dan jilbab serta printilan muslimah lainnya, karena melihat mereka yang cantik, maka tumbuhlah harapan bisa cantik juga kali ya kalau samaan gamis sama jilbabnya. Jadilah banyak yang khilaf pengen jajan terus, jilbab udah segambreng, gamis juga, tas juga, sepatu juga, bros, ciput, semua banyak.
Capek nggak sih hidup kayak gitu?
Capek dan mubazir menurut saya. Dan parahnya, banyak muslimah yang terjerat hal ini. Buktinya, lihat ke diri sendiri aja :)
Setelah menerapkan konsep hidup minimalis, saya merasa selama ini saya mengidap penyakit Obesistuff, memiliki terlalu banyak barang. Istilah Obesistuff pertama kali saya baca dari tulisannya Dewi lestari saat dia ngereview baku the Life Changing magic of tidying up. Review buku the Life Changing magic of tidying up yang di tulis Marie Kondo di baca disini
Sekarang saya coba untuk tidak membeli apa-apa sebelum barang yang saya pakai benar-benar rusak, nggak bisa dipakai lagi, atau habis. Sudah berjalan hampir setahun saya menerapkan hal ini. Alhamdulillah, dengan barang-barang yang sangat sedikit, yang paling penting dengan barang yang saya punya, saya kayak punya ikatan batin gitu.
Lalu gimana memutus Obesistuff dalam diri kita?
Saya saranin banget baca bukunya Marie Kondo. Di buku tersebut emang ngebahas cara rapi-rapi rumah, tapi lebih dalam, kita akan ngedapatin diri kita yang baru dengan hidup dengan barang yang benar-benar kita butuhkan dan tentunya minimalis. Salah satu yang saya dapat dari buku Marie Kondo dan saya terapkan dalam kehidupan saya saat ini adalah Membangun ikatan emosional dengan apa yang saya punya, caranya dengan hanya membeli dan menyimpan barang yang benar-benar saya butuhin.
Paradigma ini benar-benar nolong saya banget, coba deh kalau kita punya sepuluh sepatu apakah perasaan kita ke sepatu-sepatu itu akan sama kalau kita cuma punya tiga?
Saya yakin pasti nggak sama dengan hanya punya tiga pasang sepatu sandal. Perlakukan ke mereka pasti lebih hati-hati, lebih sayang. Begitupun dengan barang-barang yang lain.
Terakhir, sebelum menjawab judul tulisan ini?
Saya pernah dengar juga, kelak di akhirat nanti kita akan yang ditanya tentang apa-apa yang kita miliki termaksud kita belanjakan untuk apa harta kita. Saya selalu terharu sendiri kalau ingat sirah obrolan Rasulullah dengan shahabat yang mempertanyakan kehidupan Rasulullah yang sederhana banget, baju di tambal-tambal, tidur ditikar yang anyamannya berbekas dipunggung beliau, dan banyak kesederhanaan beliau yang lain.
Hikss... Masyaallah..
Ukhty fillah jangan sampai kita lebih fokus ke penampilan tapi melupakan hati kita :)
Salam,


dari cerita diatas saya pribadi sedang memikirkan hal ini berulang2, buat apa beli gamis banyak2, gamis lama yang masih cantik ga kepake gara2 pake gamis yang kekinian.

barang yang sedikit membuat kita menjadi care dengan barang kita yang sedikit, lebih dijaga. coba kalau banyak, susah ngerawatnya kan apalagi punya lahan yang minim????
toh kalau kita mati semua barang kita akan jadi milik orang lain....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Komentar Yaaa !

Komentar Pengunjung

Satu klik aja